Pernah mendapat kritik? Apa yang kalian lakukan untuk merespon kritikan tersebut?
Di zaman yang seperti ini, mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan sebuah kritikan. Apalagi, kritikan yang di kirim melalui sosial media yang dengan mudah menyebar dan menyulut beberapa oknum serta bisa saja mendatangkan masalah. Begitu mudahnya kritikan yang kita terima bahkan sampai-sampai bisa membuat seseorang rendah diri dan membuatnya semakin terpojok. Bentuk kritik adalah seperti seseorang memberikan pendapat, komentar atau pandangan terhadap sesuatu hal yang ditujukan kepada kita agar bisa melakukan perbaikan atau refleksi. Kritikan tidak mengenal tempat dan waktu sehingga ini dapat sangat mudah dirasakan oleh berbagai kalangan. Misalnya jika kalian sudah bekerja sering mendapat kritis dari atasan di kantor atau jika kalian seorang mahasiswa terbiasa mendapatkan kritikan dari dosen atau teman.
Kritikan memiliki dua macam berdasarkan tujuannya yaitu kritikan yang bersifat konstruktif dan destruktif. Kritikan konstruktif ini biasanya kritikan yang membangun dan tidak menjatuhkan diri kita. Sedangkan kritikan destruktif biasanya kritikan yang menjatuhkan sekaligus menunjukkan ketidaksukaan orang lain terhadap kita. Meskipun begitu, kita hidup di dunia pastilah ada yang menyukai dan tidak menyukai kita, tugas kita adalah tidak memberi perhatian (waktu dan tenaga) kita terhadap orang yang tidak menyukai kita.
“Kita hidup di dunia pastilah ada yang menyukai dan tidak menyukai kita, tugas kita adalah tidak memberi perhatian (waktu dan tenaga) kita terhadap orang yang tidak menyukai kita.”
Bersyukurlah kepada kalian yang pernah menerima kritikan karena dengan kritikan hal-hal tersebut dapat membuat kalian untuk terus bertumbuh dari evaluasi-evaluasi yang telah kalian kumpulkan. Seseorang memerlukan evaluasi agar diri dapat bisa menjadi lebih baik untuk bersikap. Dimana setelah memperbaiki diri, diharapkan kita tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama sehingga lebih teliti dan berhati-hati baik dalam bekerja atau dilingkungan lainnya. Menerima kritik, bukan berarti kita menjadi pribadi yang hanya ikut sudut pandang orang lain melainkan menjadikannya sebagai bahan perbaikan. Tetap mengutamakan mana kritik yang membangun dan kritik yang menjatuhkan kita.
Tetaplah menjadi diri sendiri yang cermat menanggapi kritikan. Kritik dapat menjadi bahan untuk kita bertumbuh dalam perjalanan diri. Namun juga bisa menjadi lubang bagi kita yang tidak percaya diri. Sehingga kritikan tersebut malah membuat kita menjadi takut dan merenggut apa yang menjadi nilai jati diri kita. Terdapat salah satu tips saat menghadapi kritik dari sebuah buku yang mungkin kalian sudah familiar, berjudul “Filosofi Teras”. Dari buku itu kita belajar mengelola respon terhadap kritik atau pun komentar yang kurang menyenangkan dengan tahapan stop (berhenti untuk langsung merespon secara negatif), think (pikirkan apakah hal yang dinilai orang itu salah/benar), assess (emosi negatif tersebut karena kita terbawa perasaan), dan respond (setelah kita bernalar barulah kita merespon terhadap kritikan tersebut dengan prinsip bijak).
No Comments