x

Mengenal Karhutla Yang Sering Terjadi Di Indonesia

2 minutes reading
Tuesday, 25 Aug 2026 10:58 0 105 Irene Mega Mellyana

Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan sering terjadi pada setiap musim kemaru. Penyebabnya adalah adanya aktivitas manusia yang disengaja maupun tidak disengaja atau dari kelalaian. Sehingga jika kita berpikir sejenak, bahwa karhutla sendiri ini bisa kita cegah atau bisa kita kendalikan. Jika karhutla terus terjadi berulang, maka bukan dari musimnya atau apinya, yang ada melainkan belum optimalnya sistem pencegahan dan mitigasi.

 

Selama ini kita hanya berpikir jika terjadi karhutla maka perhatian kita langsung tertuju pada pemadam kebakaran, pengerahan personel, atau oprasi darurat. Namun setelah karhutla berhasil dipadamkan, perhatian kita terhenti lalu lupa begitu saja. Seolah-olah masalah telah selesai padahal akar masalahnya belum dipelajari.

 

Masalah karhutlah yang belum dipelajari membuat kita tidak memikirkan bagaimana mitigasinya. Sehingga kita pun tergopoh-gopoh ketika karhutla terjadi seakan-akan baru pertama kali menghadapi peristiwa ini. Ketika bencana datang, kita berfokus pada pola pikir reaktif dan kita gagal belajar dari pengalaman.

 

Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang juga dikutip dalam Global Assessment Report (GAR) Tahun 2024 dari United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), mencatat luas karhutla di Indonesia pada Tahun 2023 mencapai sekitar 1,16 juta ha, sehingga meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024 luas kebakaran memang menurun menjadi sekitar 376.805 ha. Penurunan tersebut patut diapresiasi, namun belum dapat dimaknai sebagai berakhirnya ancaman. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum pernah benar-benar hilang begitu saja.

 

Pada pertengahan tahun 2025, beberapa lembaga pemantau juga mencatat bahwa titik-titik panas masih terus bermunculan di sejumlah wilayah yang rawan. Kenyataan ini menggambarkan bahwa karhutla bukanlah kejadian insidental, melainkan risiko berulang dan memiliki pola sehingga harus dikelola secara sistematis, berkelanjutan, dan berbasis mitigasi.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x