x

Pendidikan Alternatif, Pendidikan yang Memerdekakan

3 minutes reading
Sunday, 26 Nov 2023 12:50 0 488 Sulistyowati

Dalam rangka penutupan Program Guru Madrasah Menulis 2023 dan The 4th International Symposium on Education (ISOE) di Hotel Sapphire Sky Hotel & Conference, BSD City, Tangerang, Banten, muncul perbincangan menarik tentang pendidikan alternatif yang memerdekakan. Theofina Zahra dari Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah Salatiga memaparkan konsep kurikulum merdeka dalam pendekatan mereka.

Seminar ini menjadi panggung bagi diskusi yang menggugah, khususnya terkait langkah berani mengadopsi model pendidikan informal. Mungkin pada awalnya terasa “aneh”, di mana anak-anak tidak mengenakan seragam, belajar di lingkungan desa tanpa ruang khusus, bahkan mereka menjadi arsitek utama jadwal, kesepakatan, dan target belajar mereka. Di komunitas ini, tak ada guru, mereka hanya memiliki pendamping dengan peran minimal dalam proses pengajaran. Jam belajarnya? Semua tergantung pada kesepakatan yang dibuat oleh anak-anak.

Theofina Zahra menguraikan prinsip-prinsip pendidikan alternatif yang membebaskan:
1. Kemerdekaan
Mendorong kemandirian belajar sesuai dengan potensi dan minat, memupuk perilaku kritis, dinamis, dan kreatif. Konsep kemerdekaan dalam konteks ini mengandung semangat pembebasan dan peningkatan diri. Artinya, kemandirian belajar diarahkan untuk disesuaikan dengan potensi dan minat masing-masing individu, bertujuan menciptakan perilaku kritis, dinamis, dan kreatif.

2. Kontekstual
Pendekatan kontekstual dalam komunitas ini menekankan penyesuaian yang holistik terhadap anak dan lingkungannya. Kontekstual terhadap anak mengacu pada penyesuaian dengan minat, hobi, permasalahan, dan mimpi mereka. Tujuannya adalah membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan keunikan setiap anak. Selain itu, kontekstual terhadap lingkungan berarti menghindari anak terserabut dari lingkungan sekitar mereka. Mereka diyakinkan bahwa setiap individu dalam lingkungan mereka dapat menjadi guru. Sebagai contoh, dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), mereka melibatkan diri dengan memahami karakteristik lingkungan desa mereka.

3. Kegembiraan
Pentingnya kegembiraan anak menjadi landasan dalam mengarahkan kegiatan pembelajaran. Pemberdayaan anak dalam menentukan cara belajar pribadi merupakan prinsip utama. Di dalam kegiatan mereka, prinsipnya adalah memberikan hak kepada anak untuk menyusun cara belajar mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi terlatih dan mampu menentukan sendiri metode yang paling efektif bagi mereka. Setiap anak memiliki target individu yang beragam dalam setiap minggunya, seperti membaca buku, menabung Rp. 2000,-, menulis cerita pendek, puisi dan lain-lain.
Selain itu, terdapat kegiatan rutin yang mendukung kreativitas dan kegembiraan. Dilaksanakan setiap Senin, anak-anak aktif dalam perencanaan dan presentasi hasil kegiatan mereka secara bergiliran setiap harinya. Selain itu, di hari Kamis, mereka berpartisipasi dalam sesi diskusi berbagi pengalaman tentang rencana dan pencapaian mereka. Semua kegiatan ini bertujuan memberikan ruang bagi kreativitas anak dan memastikan bahwa setiap anak merasakan kegembiraan dalam proses belajar mereka.

4. Kolaboratif dan Partisipatif
Di dalam lingkup komunitas ini, terjadi sinergi dan keterlibatan bersama antara anak-anak, pendamping (guru), pengelola komunitas, orang tua, dan masyarakat sekitar. Keistimewaannya terletak pada fakta bahwa peran pengelola atau pendamping dalam komunitas ini lebih bersifat sebagai inisiator atau pengusul kegiatan. Menariknya, keputusan untuk menyetujui kegiatan tersebut justru berada di tangan anak-anak. Semua elemen di dalamnya menjalin kolaborasi, berbagi ide, dan saling menuangkan pengalaman, menciptakan lingkungan belajar yang unik dan berkesinambungan.

Asesmen dilakukan melalui catatan, dokumentasi, dan hasil diskusi, menggeser paradigma PR di sekolah formal menjadi penyelesaian masalah dan mimpi di komunitas ini. Theofani menegaskan, “anak haruslah dilihat dengan kacamata anak.”. Bagaimana perjalanan mereka berakhir? Setara dengan kelas 9 atau 12, anak-anak diberi opsi untuk mengikuti ujian kejar paket C. Pilihan ini bersifat sukarela. Di akhir simposium, Theofani menegaskan, “pembelajaran tidak mengenal waktu, pembelajaran tidak mengenal ruang.” Sebuah pengingat bahwa esensi pembelajaran sejati dapat ditemukan di mana pun, kapan pun.

Sulistyowati

Guru MA Al Hidayah Wajak

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x