Sumber: Pinterest Sosial media dan budaya narsistik sering kali dua hal ini selalu berkaitan. Media sosial menjadi wadah sedangkan budaya narsistik adalah bahan yang diulas. Generasi muda yang terpapar pengaruh sosial media dan budaya narsistik seiring waktu akan mengubahnya menjadi pribadi yang meng-copy paste dari apa yang dilihatnya.
Secara tidak langsung terdapat kompetisi virtual yang itu membuat kita menjadi manusia yang tidak seutuhnya. Kita menjadi cocoklogi dengan konten yang kita lihat. Misalnya suami yang ideal karena preferensi di media sosial sehingga akhirnya harus berandai-andai suami yang ideal dan akhirnya hubungannya menjadi berantakan karena ekspektasinya tidak terpenuhi. Sehingga orang melihat segala sesuatu itu selalu pada material. Sesuatu yang konkrit misalnya akan bahagia jika memiliki uang yang banyak. Memang pada dasarnya segala sesuatu butuh uang, akan tetapi ada hal tidak bisa dibeli dengan uang. Sehingga generasi sekarang menjadi orang yang tidak menikmati proses. Menjadi generasi yang hanya berpikir semua hal harus aku, aku, dan aku.
Sehingga penting untuk menerapkan parenting nusantara, dimana mengajarkan kesederhanaan, manusia tidak bisa hidup sendiri, dan bersahabat dengan alam. Kembali menjadi manusia yang seutuhnya dengan memberikan kesadaran pada diri bahwa tidak semua yang terlihat adalah hal yang baik untuk dilakukan. Memfilter mana yang baik untuk diri dan bermanfaat bagi sekitar kita.
Manusia itu berdaya dan harus bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.
No Comments