x

Ancaman Mangrove Di Teluk Pangpang

3 minutes reading
Sunday, 4 Jan 2026 06:43 0 232 Irene Mega Mellyana

Teluk Pangpang menjadi salah satu tempat yang menarik banyak perhatian karena sumber daya fisiknya berupa hamparan kawasan mangrove di Desa Kedungringin dan Wringinputih, Kecamatan Muncar dan Desa Kedunggebang dan Kadungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kabupaten Banyuwangi juga memiliki garis pantai yang cukup panjang sebesar 175,8 km dan terdapat 10 pulau kecil. Wilayah ini terbagi menjadi 25 kecamatan dan 217 desa atau kelurahan. Kecamatan Tegaldlimo menjadi wilayah yang paling luas dengan memiliki luasan sekitar 1.341,12 km2 dan Kecamatan Giri menjadi wilayah terkecil dengan besaran luasan sekitar 21,31 km2 (BPS Kabupaten Banyuwangi, 2025). Kabupaten Banyuwangi juga berada di daerah pegunungan yang mayoritas masyarakat menghasilkan produk perkebunan, daerah daratan menghasilkan produk pangan, dan daerah garis pantai menghasilkan produk laut. Kondisi iklim di Kabupaten Banyuwangi memiliki curah hujan sebesar 1.360,4 mm dengan jumlah 157 hari hujan. Suhu rata-rata selama tahun 2024 sekitar 27,86 derajat celsius, suhu maksimal sekitar 23,48 derajat celsius dengan rata-rata kelembapan udara sebesar 77,33%.

Secara geografis, Teluk Pangpang berada di bagian provinsi Jawa Timur pada koordinat 8°31’21” South latitude dan 114°20’46” East longitude, berbatasan dengan wilayah selat bali dan Samudra Hindia. Luas Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sekitar 1.663,71 ha dengan banyaknya jenis keanekaragaman hayati. Pohon mangrove terdapat 12 jenis, fauna sebanyak 43 jenis burung dan 18 jenis burung migran seperti Bivalvia yang berpindah dalam periode migrasi tertentu.

Teluk Pangpang menjadi Kawasan Ekosistem Esensial setelah dikukuhkan oleh SK Gubernur Jawa Timur No 188/338/KPTS/013/2020 pada 27 Juli tahun 2020 dan berdasarkan SK Gubernur Jawa Timur No 188/123/KPTS/013/2021 mengenai Pengelola Kawasan Ekosistem Esensial Teluk Pangpang Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur (Gubernur Jawa Timur, 21 C.E., 2023). Kawasan ini juga menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark Ijen Biosite. Teluk Pangpang dinilai memiliki peran penting dalam perlindungan ekologi dan dapat memberikan manfaat berupa jasa ekosistem lingkungan bagi kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitarnya. Hubungan dengan jasa ekosistem ini mencangkup sebagai tempat pembibitan laut, dapat mengurasi erosi pantai, dan kemampuannya dalam produksi sedimen (Rangel-Buitrago & Neal, 2018). Area mangrove ini menjadi area yang jenuh terhadap air, baik secara musiman maupun permanan yang menjadi pembeda antara karakteristik pada ekosistem lain. Area yang dinamai sebagai “Mangrove Trail” ini juga menjadi bagian dari pengelolaan Taman Nasional Alas Purwo. Sisi mangrove terbagi menjadi zonasi mangrove peralihan antara zona yang tergenang (mangrove terbuka) dengan zona mengrove yang tergenang ketika pasang (mangrove tengah). Pohon yang mendominasi pada area ini seperti Rhizophora mucronata, bagian belakang terdapat Rhizophora apiculata dengan jenis Sonneratia ovata. Zona mangrove yang biasa tergenang juga terdapat jenis lain seperti Ceriops tagal, Xylocarpus moluccensis, Excoencaria agallocha, dan Lumnitzera racemosa sampai pada zona belakang mangrove.

Jenis tegakan mangrove ini dapat mengurangi energi dari setiap gerusan air laut yang bergerak melaluinya. Energi yang hilang ketika terjadi gelombang pada akar dan cabang-cabangnya berkisar 15-65% sehingga dapat meminimalisir gerusan dasar laut dan terjadi proses pengendapan sediman (Rangel-Buitrago & Neal, 2018). Endapan sedimen yang ada kemudian secara bersamaan akan mengurangi angin yang melintasi permukaan air sehingga mengurangi pembentukan gelombang rambatan selanjutnya. Area yang dilindungi oleh mangrove memiliki manfaat besar dalam mengurangi kerusakan dibandingkan area yang tidak memiliki tegakan mengrove.

Ancaman ini juga serupa terjadi di Teluk Pangpang yakni kegiatan deforestasi hutan mangrove dari adanya kegiatan pengembangan lahan untuk tambak maupun kegiatan pembangunan perkotaan (Gambar. 1) (Handika Putra, 2021; Setyaningrum et al., 2020). Besar atau kecilnya dampak dari kegiatan tersebut bergantung pada stakeholder terkait. Tekanan terutama manusia (antropogenik) dari sekitarnya menyebabkan perubahan pada keanekaragaman hayati dan struktur ekosistemnya. Sehingga kegiatan penanaman dan monitoring mangrove harus terus dilaksanakan untuk melindungi habitat ekosistemnya termasuk bahaya erosi. Keterlibatakan masyarakat disekitar Teluk Pangpang dapat membantu meningkatkan kualitas jasa ekosistemnya sehingga dampak buruk akibat perubahan iklim dapat diminimalisir di masa mendatang.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x